Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
7

Penulis; Amdi Hamdani

Makassar, ksrpmiumi.org – Dalam kehidupan manusia terkadang kita menemukan adanya kecelakaan yang meninpa sesama manusia. Semangat kemanusiaan yang ingin menolong korban kecelakaan itu selalu ada disetiap insan manusia. Tetapi kita juga mesti mengetahui bagaimana menangani korban yang mengalami kecelakaan. Terkadang niat menolong korban tersebut justru memperparah kondisi korban. Akibat fatalnya, korban bisa meninggal dunia karena salah dalam penanganan pertamanya. Itulah pentingnya melakukan penilaian penderita sebelum melakukan pertolongan terhadap korban.

“Banyak kejadian korban meninggal karena salah penanganan diawal”, kata Saudara Abdul Aziz MT S.H (Kak Aziz, XVII Delta 03) saat diwawancarai awak infokom.

“Contohnya seperti orang yang kecelakaan, kerap korban yang mengalami musibah tersebut langsung di evakuasi tanpa memperhatikan kondisi korban, tanpa menilai keadaan. Niat ingin menolong tetapi tidak memperhatikan apakah ada injury yang terjadi pada korban terkhususnya tulang leher yang kerap mengalami fraktur cervivalis akibat salah melakukan pertolongan pertama”, lanjutnya.

Kak Aziz menjadi fasilitator dalam materi indoor Pendidikan Lanjutan (Diklanjut) angkatan XXI Korps Sukarela Palang Merah Indonesia Universitas Muslim Indonesia (KSR PMI UMI), Selasa sore, (15/12) dihadapan 19 anggota muda KSR PMI UMI. .

Dalam kesempatannya kali ini,  ia membawakan materi BHD/RJP (Bantuan Hidup Dasar/Resusitasi Jantung Paru), CPR (Cardiopulmonary Resusitation) dalam bahasa inggrisnya atau orang juga kadang menyebutnya PJL (Pijat Jantung Luar). Materi ini mempelajari bagaimana melakukan pertolongan kepada korban yang mengalami henti nafas dan henti nadi.

“BHD itu kita berbicara mengenai yang kita lakukan ketika kita menemukan korban yang henti nafas dan henti nadi” ucapnya.

Kak Aziz yang saat ini bekerja sebagai Tim Emergency Response Grup PT. Berau Coal menuturkan untuk penanganan CPR itu dilakukan dengan metode Danger – Response – Shout for help – Circulation – Airway – Breathing – Defibiration  – Recovery position. Setiap 5 tahun AHA (America Heart Assosiation) memperbarui penanganan dalam CPR. Terbaru AHA 2020, tetapi kali ini berbeda. Didalam AHA terbaru itu menyesuaikan situasi pandemi, terlebih tahun 2 tahun terakhir dunia sedang dilanda pandemi Covid-19.

Defibiration itu saya tambah sendiri. Kalau Danger – Response – Shout for help – Circulation – Airway – Breathing – Recovery postition itu mengikuti AHA 2015”, tuturnya.

Danger itu meliputi aman diri, aman lingkungan dan aman korban. Kenapa kita harus menilai lokasi kejadian. Karena itulah yang paling utama. Menjadi seorang rescuer, atau seorang penolong. Kita harus lebih safety dulu. Seorang Rescuer tidak dibenarkan melakukan pertolongan bila saja seorang penolong tidak mampu memberikan pertolongan. Jadi yang paling utama itu ialah mengamankan lokasi kejadian lalu mengamankan diri. Aman diri itu seperti menggunakan APD (alat pelindung diri) yang terdiri dari sarung tangan lateks, baju pelindung, kaca mata pelindung, masker, dan helm pelindung.

“Contoh orang terkena setrum. Kenapa kita harus menilai lingkungan. ketika kita langsung sentuh korban. siapa tau posisinya disitu air, ada listrik. Kalau kita tidak hindari, kita bisa kena juga. Malah menambah korban. Itu kenapa pentingnya kita kenapa harus menilai lingkungan”, ungkapnya.

Untuk Respon sendiri itu AVPU, atau ASNT yang kita kenal diPMI. AVPU itu Alert, Voice, Pain, Unconscious dan ASNT singkatan dari Awas, Suara, Nyeri dan Tidak Respon. Dalam tahap ini kita diharuskan untuk menilai keadaan korban, meliputi tanda-tanda vitalnya dan melihat respon korban. Penolong dianjurkan untuk menepuk bahu korban dan bertanya “Apakah korban baik-baik saja?”.

Selanjutnya Shout For Help, yaitu segera memanggil bantuan atau menelfon layanan tanggap darurat. Mau bantuan dari Puskesmas, Rumah Sakit maupun TSC. Di Indonesia sendiri nomor emergency untuk ambulans ialah 118 atau 119.

Berikutnya Circulation, dalam tahap ini pertama penolong harus memeriksa nadi korban. Pemeriksaan nadi ini tidak boleh lebih dari 10 detik. Apabila korban ada nadi dan nafas berati kondisi korban normal. Bila ada nadi dan tidak ada nafas segera lakukan rescue breathing. Rescue breathing adalah pertolongan memberikan nafas bantuan. Jadi untuk memberi nafas bantuan itu selama 2 menit selama 20 kali dalam interval waktu 5-6 detik. Lalu bila tidak ada nadi dan nafas segera mempersiapkan diri untuk melakukan CPR. Temukan titik pijatan CPR, posisikan kedua tangan pada titik pasien dengan tangan yang dominan berada dibawah. Selanjutnya lakukan pijatan dada dengan lengan tetap lurus, siku terkunci, bahu tepat di atas titik pijakan dan tekuk di pinggul untuk menggunakan berat badan saat melakukan pijatan.

“Berbicara soal sirkulasi. Yang paling pertama kita lihat dari nadi. Dari atas, nadi itu ada banyak nadi. Tapi yang paling utama kita periksa itu nadi karotis. Karena nadi yang paling dekat dari jantung yang pertama. Yang kedua , menentukan titik pijakan itu lurus dengan putting susu atau papilla mamae. Tepat diatas tulang sternum, atau dua jari diatas tulang PX atau taju pedang”, jelas Kak Aziz.

“Untuk penekanan itu selurus dengan bahu dengan tangan yang dominan. Dengan kedalaman 5-6 cm atau dia sampai 3 inci. Itu dengan kecepatan 100-120 kali per menit. Selama 5 siklus, 30:2. 30 kali pijatan, 2 kali tiupan (ventilasi) sambil memperhatikan dengan seksama kembang kempis perut”, tambahnya.

Ketika memberikan nafas bantuan, sang penolong juga sebaiknya melakukan finger swip, yaitu memeriksa jalur pernafasan. Terkadang ada yang menyumbat saluran pernafasan.

“memberikan nafas bantuan kadang ada yang menyumbang saluran pernafasan seperti lidah sendiri. Ketika lidahnya sudah bengkok masuk kedalam kita harus melakukan finger swip dengan menggunakan jari jempol dan telunjuk untuk membuka mulut dan jari tengah untuh membersihkan sumbatan” ucapnya.

Seorang penolong juga akan berhenti melakukan CPR bilamana sudah ada respon dari korban. Yang kedua, ketika penolong yang lebih ahli datang, dokter atau paramedis. Yang ketiga, ketika penolong capek. Yang keempat, ketika korban atau pasien sudah dinyatakan meninggal oleh dokter maupun tenaga ahli. Karena hanya dokter yang boleh menilai bahwa korban ataupun pasien telah meninggal dunia.

Seorang penolong juga tidak dibenarkan melakukan CPR bila sudah ada tanda-tanda pasti mati. Seperti lebam mayat, kaku mayat, pembusukan dan cedera yang mematikan.

Lalu Airway, yaitu membuka jalur nafas. Dalam tahap ini ada 2 metode.

Head tit and Chin Lift atau angkat dahu tekan dahi sementara Jaw Thrust jika dicurigai ada trauma maupun injury seperti cedera tulang leher” ungkapnya.

Breathing, memberi nafas bantuan. Meminimalkan interupsi tidak lebih dari 10 detik. Menjaga jalan nafas, rasakan resistensi dan perhatikan kenaikan dada dan berikan 2 bantuan nafas, sebaiknya menggunakan pocket mask . Defibiration, memberikan nafas bantuan menggunakan alat bernama AED (Automated External Defibrillator).

Apabila korban sudah memperlihatkan tanda-tanda adanya nafas dan nadi, sang penolong harus tetap memperhatikan frekuensi pernafasan korbannya.

Yang terakhir Recovery position, Jika pasien bernafas namun tetap tidak sadarkan diri, letakkan pasien pada posisi pemulihan.

“Ketika tidak menemukan cedera di sebelah kanan pada korban. Dimiringkan kesebelah kanan. Untuk posisi tangan, punggung maupun tangan sebelah kiri, kita tempelkan tangan kiri ke pipi sebelah kanan. Terus untuk tangan sebelah kanan atau lengan kanan diposisikan ibarat seperti orang menggengam dan menghadap keatas. Baru untuk lutut, kita satukan. Kita berdirikan lutut sebelah kiri, baru kita tarik dari bagian pinggul dan bahu.apabila ada aksesoris dan jam tangan itu harus dibuka”, pungkasnya.

Selain itu, Kak Aziz juga menyarankan untuk seorang relawan, penolong ataupun rescuer harus mempunyai kematangan emosional. Ketika melakukan pertolongan sangat tidak dibenarkan apabila sang penolong membawa nafsunya,egonya dan emosinya. Seorang penolong harus bersikap tenang, tidak boleh panik. Tujuan seorang penolong adalah membuat korban menjadi nyaman, menghindari terjadinya cedera yang mematikan.

“bahaya kalau penolong membawa nafsunya saat memberikan pertolongan”, tutupnya.

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
7

LEAVE A REPLY