Like
Like Love Haha Wow Sad Angry

Penulis; Delta Cakrawala

Lahabo Dg. Tiro (65), seorang nelayan tradisional yang berdomisili di Dusun Petang, Desa Arungkeke, Kecamatan Arungkeke, Kabupaten Jeneponto belum kembali dari melaut sejak Senin kemarin hingga Selasa (23/3), pagi.

Kartu Identitas Survivor

Senin (22/3) sekitar pukul 08.00 WITA, ia berangkat melaut seorang diri menggunakan perahu jenis kating-ting dan masih menggunakan cara-cara tradisional yang ramah lingkungan dengan sistem jala.

Biasanya, Dg. Tiro akan kembali ke darat bila matahari sudah berada diatas kepala atau sekitar pukul 12.00 WITA, siang. Namun hingga sore hari korban belum kembali.

Berdasarkan informasi dari kepala desa Arungkeke, Pak Amir. Korban diketahui belum kembali melaut menjelang Maghrib. Warga sekitar kemudian melakukan pencarian di sekitar wilayah Dg .Tiro melaut, sekitar 12 km dari bibir pantai.

“Sekitar jam 9-10 pagi, itu masih ada yang liat (Dg. Tiro) baru ambil ikan dijala-nya, sudah ada tangkapannya di perahunya”, ungkapnya.

Menurut informasi yang diterima, korban menggunakan baju warna putih saat melaut dan biasanya menggunakan training.

Ada tiga perahu yang mencarinya setelah mengetahui kabar tersebut. Namun hingga Ba’da isya, pencarian yang dilakukan oleh warga sekitar belum menuai hasil yang baik.

Kopti Munawir, Babinsa Arungkeke dan Pak Amir kemudian melaporkan kejadian ini kepada Basarnas Sulsel (Badan Pencarian dan Pertolongan Sulawesi Selatan). Laporan Ini baru diterima malam harinya selepas Ba’da isya.

Dg. Tiro bisa dikatakan merupakan nelayan berpengalaman, sejak kecil dia sudah melaut. Beliau hidup sendiri, belum menikah, dan tidak mempunyai anak. Dia warga asli kampung ini. Tetapi, sejak kecil, ia juga mempunyai riwayat penyakit Asma. Tetangganya mulai khawatir sebab hingga matahari terbenam, korban belum juga kembali melaut.

“Susah perahu jenis ini terbalik, dia (Dg.Tiro) juga nelayan berpengalaman, pasti kalau ada apa-apanya pasti dia kasi turun jangkar, baru tunggu bantuan datang”, jelas Pak desa.

“Perahunya juga perahu baru dan mesin baru, belum cukup satu tahun itu perahunya”, lanjutnya.

Perahu Kating-ting milik Dg.Tiro berukuran 7,5 Meter berkapasitas 3-5 orang berwarna biru, menggunakan mesin loncing 7,5 PK, didepan kapal tertulis DD (Dana Desa) Arungkeke.

Perahu milik nelayan Arungkeke

“Ada pallewainya kanan-kiri”, kata Pak Amir.

“Kecepatan perahu ini ditaksir hanya mampu sekitar 15-20 km/jam”, sambungnya.

“Biasanya juga nelayan memulai aktivitasnya itu setelah shalat subuh, bila daerah tangkapannya lumayan jauh, mulainya jam 2 subuh”, tutupnya.

Kronologis Operasi

Senin, (22/3) Sekitar pukul 22.55 WITA, malam, Anggota yang saat itu bertugas piket siaga bencana 7 x 24 Jam di Markas Kemanusiaan Korps Sukarela Palang Merah Indonesia Universitas Muslim Indonesia (KSR PMI UMI) menerima informasi adanya nelayan tradisional yang belum kembali dari melaut.

Pukul 00.06 WITA, Selasa (23/3), KSR PMI UMI menurunkan 4 orang anggotanya menuju ke Jeneponto. Mereka ialah, Alif alias Lippo, Rama alias Abang, Baso Zulkifli dan Boy.

Tim KSR UMI kemudian berkumpul bersama potensi SAR lainnya di Jln. A.P Pettarani Makassar pada pukul 00.10 WITA. Kemudian menunggu potensi SAR lainnya yang ingin berangkat menuju ke Jeneponto.

Setelah menunggu sekitar sejam, tim memutuskan untuk berangkat pukul 00.53 WITA.

Tim tiba di lokasi pada pukul 03.43 WITA bersama dengan Basarnas dengan 4 orang anggotanya, SAR Unhas 2 orang, SAR UNM 3 orang, SAR Metamorfosis 1 orang, SRC 1 orang, SAR Hasanuddin 2 orang dan Damkar Makassar 1 orang.

Saat Briefing

Pukul 08.00 WITA, operasi SAR Nelayan Tradisional Jeneponto dimulai dengan melakukan briefing yang berlangsung selama hampir 10 menit.

Agenda ini dipimpin oleh Fajrin sebagai DanSRU (Komandan Search Rescue Unit) bersama dengan Binmas dan Babinsa. Selanjutnya, tim mempersiapkan peralatan operasi seperti perahu karet, pelampung, helm dan alat medis.

SRU Memulai Pencarian

Pukul 08.25 WITA, tim melanjutkan agenda operasi dengan mengutus 1 SRU (Search Rescue Unit) berjumlah 8 orang. Masing-masing potensi SAR mengutus anggotanya satu orang ditambah dengan warga setempat berjumlah satu orang. Masyarakat setempat juga turut mencari survivor, 2 perahu jenis kating-ting mendampingi SRU yang turun mencari.

Berselang sekitar 10 menit kemudian, tim di posko yang berada di dermaga mendapat informasi melalui HT (Handy Talky) bahwa perahu survivor telah ditemukan dengan kondisi mesin rusak. SRU yang melakukan pencarian bertemu dengan survivor. Survivor dalam keadaan sehat wal’afiat.

Tepat pukul 08.34 WITA, dari sisi kiri dermaga melintas kapal milik survivor. Terlihat kapal milik survivor mengalami kendala. Perahunya ditarik oleh perahu milik warga lainnya. Selanjutnya, Pukul 08.53 WITA, SRU kembali ke dermaga lalu briefing. Terakhir Fajrin menutup operasi SAR ini.

Ditemukan Selamat

Foto Survivor Setelah Mendapatkan Perawatan Dari Tim Medis

Selasa, (23/3), pagi, Dg.Tiro, survivor yang dinyatakan hilang kemarin malam telah kembali ke rumahnya dalam keadaan sehat Wal’afiat.

Fajrin, DanSRU Operasi menuturkan bahwa survivor mengalami kendala saat ingin pulang dari melaut.

“Aspropeller mesin perahunya rusak”, tuturnya.

“Survivor kemudian membentangkan layarnya, angin barat membawanya ke muara petang, saat berada di muara dan melihat hari sudah mulai gelap, ia menurunkan jangkarnya, menikmati hasil tangkapan ikannya lalu tidur”, lanjutnya.

Pagi harinya, survivor melihat nelayan yang hendak melaut kemudian memberikan kode kepada nelayan tersebut. Survivor kemudian meminta bantuan agar perahunya di deret menuju ke daratan.

Cerita Survivor

Selepas shalat subuh kemarin, Dg.Tiro sudah merencanakan sebelumnya untuk berlayar ba’da subuh. Namun keadaan itu tidak sesuai rencananya. Penyakit Asma yang dideritanya sejak kecil kembali kambu. Ia kemudian mengkonsumsi obat untuk mengatasi penyakitnya. Beberapa menit setelah minum obat, tubuhnya kembali normal.

Sekitar pukul 07.00 WITA, ia kemudian bergegas untuk segera melaut. Setelah menempuh perjalanan sekitar satu jam, ia tiba di lokasi tujuannya. Selanjutnya ia memeriksa jala-nya. Disitu, ada dua ikan besar yang menyangkut.

“Sudah saya ambil ikannya, saya pasang lagi jala-nya”, ucap Dg.Tiro.

Tiba-tiba ada dua temannya sesama nelayan yang menuju ke arahnya dan mempertanyakan hasil tangkapan Dg. Tiro. Setelah itu, temannya kemudian melanjutkan perjalanannya untuk pergi memancing, sementara Dg.Tiro berkeliling memeriksa jala-nya yang lain.

Setelah pekerjaannya selesai, sekitar pukul 11.00 WITA, Dg. Tiro berencana untuk bergegas pulang. Sebelum meninggalkan lokasi, ia sempat untuk membersihkan perahunya.

Kelar membersihkan perahu, Ia kemudian menyalakan mesinnya dan Perahunya sudah dibawah kendalinya, namun baru sekitar 1 km perahu itu melaju, tiba-tiba mesin perahunya mati, ia kemudian insiatif untuk memeriksa keadaan mesin tersebut.

Setelah diperiksa, ternyata baling-baling mesinnya bermasalah. Ia pun mencoba untuk mencari bantuan, Namun sayangnya, siang itu sepertinya nelayan sudah pulang melaut, tak ada satupun perahu yang ia lihat sejauh mata memandang melintas.

Ketika mengetahui keadaan ini, ia mencoba menenangkan dirinya dan berpikir untuk mencari jalan keluar. Selanjutnya karena sudah pasrah dan melihat ada tenda serta tiang di perahunya, segera ia mengibarkan layar.

“Tidak adami perahu yang lewat, pasrahma ini, biar sampai Bantaeng, Jeneponto, Selayar, ndada masalah”, katanya saat diwawancarai oleh tim KSR UMI.

Angin barat berhasil membawanya ke sebuah Muara Tino’ pada sore harinya. Karena saat itu sudah hampir malam dan merasa kelelahan. Dia beristirahat di perahunya, jangkarnya diturunkan.

Sebelum ia merebahkan tubuhnya, ia melihat hasil tangkapannya. Segera ia membelah ikan itu dan menikmatinya.

“Sudah makan, saya mengantuk, terus tidur sampai pagi”, ujarnya.

Sinar mentari pagi membangunkannya, Nasib baik menghampiri nelayan tradisional ini kala itu. Setelah bangun, ia melihat ada perahu tak jauh dari lokasinya. Tidak butuh waktu lama, perahu itu sudah tiba di lokasi Dg.Tiro. ia kemudian meminta bantuan kepada nelayan itu.

“Bisaki Tonda ka? Beberapa meter kedepan, kalau dangkalmi nanti saya lanjut pakai tongkat”, kata Dg. Tiro kepada nelayan tersebut.

Beberapa menit kemudian, ia melihat tetangganya melintas dan mendengar kabar bahwa saat itu ada banyak orang yang mencari keberadaannya. Ia kemudian meminta agar perahunya ditarik menuju ke bibir pantai.

“Banyak orang pergi cariko”, kata Dg.Tiro sambil menirukan suara tetangganya.

Ia pun kemudian mengambil sebuah tali untuk dikaitkan di perahunya lalu ditarik dan selanjutnya bergegas pulang.

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry

LEAVE A REPLY