Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
411

Makassar, ksrpmiumi.org – Lambang perhimpunan nasional Bulan Sabit Merah secara resmi diakui sebagai salah satu lambang kemanusiaan setelah Konvensi Jenewa tahun 1929. Bulan Sabit Merah resmi digunakan oleh Kesultanan Turki (Ottoman) saat berperang melawan kekaisaran rusia rentang tahun 1876-1878. Pada perang ini, tim medis Rusia telah menggunakan palang merah. Sejak saat itu, lambang Bulan Sabit Merah mulai dikenal luas oleh masyarakat internasional dan mendapat pengakuan. Bulan Sabit Merah digunakan sebagai penghormatan kepada Turki yang menganut agama islam.

Sebelumnnya lambang ini telah digunakan Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa Salam dan sahabat saat berperang. Mereka adalah tim medis yang dinahkodai oleh para muslimah, para shabiyah. Tengoklah Ummu Kultsum, istri dari Umar ibn Khattab, putri sahabat Abu Bakr Ash-Shidiq bernama Shafiyyah. Mereka mendirikan kemah-kemah di garis belakang untuk mengobati pasukan kaum muslim yang terluka. Kompasiana.com

Di Indonesia sendiri, Lambang ini pernah digunakan oleh salah satu organisasi kemahasiswaan perguruan tinggi swasta (PTS) khususnya Indonesia Timur, Sulawesi Selatan, Makassar yang bergerak dibidang kemanusiaan, yaitu Korps Sukarela Bulan Sabit Merah Universitas Muslim Indonesia (KSR BSM UMI).

Pertama kali didirikan pada tahun 1989 organisasi ini menggunakan lambang Palang Merah dan bernama Korps Sukarela Palang Merah Indonesia Universitas Muslim Indonesia (KSR PMI UMI). Namun pada tahun 1998, saat organisasi ini dikomandoi oleh mahasiswa kedokteran dr. Annas Ahmad Maemal, (Angkatan IV) terjadi perubahan lambang menjadi bulan sabit merah. Alhasil organisasi ini merubah namanya menjadi KSR BSM UMI yang kerap menggunakan tagline “Totalitas tanpa batas untuk kemanusiaan” sebagai wujud tujuh prinsip dasar Palang Merah dan Bulan Sabit Merah Internasional tentang bagaimana seorang relawan harus bekerja tanpa pamrih dalam menjalankan misi kemanusiaan.

Prof. Abdurahman Basalamah yang saat itu menahkodai Universitas Muslim Indonesia (UMI) mengamanahkan agar lambang palang merah diganti menggunakan lambang Bulan Sabit Merah. Menurutnya sebuah lambang palang identik dengan non muslim. Sementara kampus UMI merupakan Universitas yang berlandaskan asas-asas Islam. Berangkat dari amanat tersebut, KSR BSM UMI menjadi satu-satunya KSR yang pernah menggunakan lambang Bulan Sabit Merah.

Surat Edaran Rektor Nomor 239/K.09/UMI/V/2015

Namun amanah tersebut hanya bertahan selama 17 tahun. Berdasarkan Surat dari Rektor Nomor 239/K.09/UMI/V/2015 tentang Permohonan Penyesuaian Lambang dan Nama Organisasi mengharuskan Bulan Sabit Merah berubah kembali menjadi Palang Merah, KSR BSM UMI secara resmi berubah menjadi KSR PMI UMI sesuai keputusan Sidang Pleno saat Musyawarah Besar (Mubes) tahun 2015 silam. Mubes kali itu melahirkan pemimpin baru dari angkatan XV, Mahasiswa Fakultas Hukum UMI (FH-UMI), Rizal Anwar atau biasa disapa Kak Ibo. Sebelumnya pernah suatu hari PMI Kota Makassar bersilaturahi ke Rumah Kemanusiaan. Akan tetapi, dibalik silaturahmi tersebut tersirat sebuah pesan kepada pengurus harian KSR BSM UMI saat itu untuk merubah lambang. Tetapi ketangguhan hati para pengurus saat itu dalam menjalankan amanat dari mendiang Prof. Abdurahman Basalamah masih teguh. Alhasil PMI Kota Makassar kembali ke markas mereka dengan ekspektasi yang tak sesuai dengan realitasnya.

Ketetapan itu diperkuat dengan terbitkan UU Nomor 1 Tahun 2018 tentang kepalangmerahan. Regulasi yang dikeluarkan tersebut mengharuskan Indonesia hanya menggunakan satu lambang perhimpunan nasional yang di pelopori oleh John Hendry Dunant, yaitu Palang Merah. Saya mempunyai pandangan yang berbeda tentang bagaimana kita menyatukan perbedaan menjadi satu, Mengapa kita tidak merayakan perbedaan dalam persatuan?

Cerita Bulan Sabit Merah

Markas Kemanusiaan KSR BSM UMI era 1990-an

Di Kampus II UMI Jln. Urip Sumoharjo Makassar sekitar tahun 1990-an terdapat papan sebuah bertuliskan “MARKAS Kemanusiaan KSR BSM UMI”. Diatasnya dipasang sebuah seng kecil untuk melindunginya dari guyuran hujan atau panasnya terik matahari. Disamping kanan dan kirinya rumput liar tumbuh dan pohon menjulang tinggi. Sementara Dibelakangnya berdiri Rumah Kemanusiaan atau Posko Tanggap Darurat Siaga Bencana. Rumah Kemanusiaan inilah yang menjadi tempat permulaan bagaimana jiwa-jiwa kemanusiaan memulai tugas mulianya.

Anggota KSR BSM UMI saat berfoto di Puncak Arjono

Saya pernah bercerita dengan beberapa anggota yang aktif saat era BSM UMI, Ia menuturkan bahwa menggunakan lambang Bulan Sabit Merah merupakan sebuah kebanggan tersendiri yang tak bisa di ungkapkan oleh kata-kata. Logo Bulan Sabit Merah kini hanya menjadi cerita.

“Bulan Sabit Merah ini kau ee”, tuturnya.

Lambang tersebut kini masih terpampang di dinding Rumah Kemanusiaan. Lambang Bulan Sabit Merah. Lambang itu dicat menggunakan cat minyak dengan latar berwarna putih yang masih ada hingga kini. Konon katanya keaktifan anggotanya bisa dilihat dari indikator bagaimana anggotanya berlalu lalang di depan logo tersebut. Semakin banyak anggota yang melewatinya artinya semakin hidup organisasi ini, begitupun sebaliknya.

Kameja dengan warna dasar biru merupakan pakaian dinas harian (PDH) yang digunakan pengurus KSR BSM UMI pada masanya. Terdapat dua kantong di bagian dada, sebelah kiri dan kanan. Diatas kantong sebelah kanan terdapat papan nama pengurus yang mengenakan, sementara di sebelah kiri jelas posisinya sebagai pengurus waktu itu. Dilengan kiri dihiasi lambang KSR BSM UMI sementara disebelahnya terdapat Logo UMI. Saya tidak pernah melihat langsung pakaian tersebut, sebab pakaian tersebut kini tak ada lagi dirumah kemanusiaan. Saya hanya melihatnya dari media sosial KSR PMI UMI. Menurut saya, Menghadirkan pakaian tersebut di Rumah Kemanusiaan saat ini mungkin akan menghadirkan cerita tersendiri. Anggotanya bisa mengenang bagaimana Bulan Sabit Merah saat itu menjalankan misi-misi Kemanusiaan.

Dalam menjalankan misi kemanusiaan, KSR BSM UMI sudah jauh melintang dalam aksi – aksi kemanusiaan. KSR BSM UMI pernah mengepakkan sayapnya hingga ke Aceh, saat itu terjadi Tsunami di Aceh.

Dalam regional Sulawesi, KSR BSM UMI aktif dalam kegiatan-kegiatan Pertolongan pertama, Penanggulangan bencana hingga Operasi SAR di beberapa gunung di Sulawesi Selatan. Seperti Di Gunung Bawakaraeng, Gunung Lompobattang hingga puncak tertinggi di Sulawesi, Gunung Latimojong. BSM UMI juga pernah mendirikan posko Dapur Umum (DU) saat kebakaran di Maccini tahun 2004 bekerja sama dengan dinas sosisal serta Operasi Banjir Swadaya tahun 2010. Tentunya ada banyak kegiatan kemanusiaan yang pernah BSM UMI lakukan.

KSR BSM UMI juga mempunyai program kerja yang menjadi favoritnya, Namanya Ekspedisi Kemanusiaan. Kegiatan tersebut didalamnya terdapat berbagai aksi-aksi sosial seperti, Sunatan Massal, Penyuluhan Kesehatan hingga renovasi fasilitas umum. Saya tidak mengetahui pasti kapan dan dimana ekspedisi tersebut pertama kali dilaksanakan. Santer saya dengar kegiatan ini pertama kali dilaksanakan di Kabupaten Enrekang. Tetapi mungkin Ekspedisi Kemanusiaan Noling menjadi momentum indah bagaimana KSR BSM UMI menjalankan aksi kemanusiaan.

Jarak sejauh 340 KM harus ditempuh sang relawan demi menjalankan misi kemanusiaan. Ekspedisi itu dilaksanakan di Lingkungan Lumika, Kelurahan Noling, Kecamatan Bupon Kabupaten Luwu pada Tahun 2011 dengan agenda Sunatan Massal, Pengobatan Gratis, Pelatihan Emergency, Penyuluhan Kesehatan, Penghijauan dan Bina Bakti Lingkungan. Ekspedisi Kemanusiaan yang berlangsung 21 – 24 Juli ini mengharuskan anggota KSR BSM UMI menyebrangi sungai yang lumayan besar sambil menopang perlengkapan ekspedisi. Dalam memenuhi target dananya saat itu sekitar 15 juta, Panitia menjual kue dan stiker, kadang juga mengadakan bazar. Keringatnya berkucuran, tetapi semangat yang membara dalam menjalankan misi kemanusiaan tak pernah padam. Kegiatan ekspedisi itu sukses terlaksana dan kini menjadi cerita tersendiri yang sukar untuk dilupakan.

KSR BSM UMI juga dikenal sebagai pencetus kegiatan Invitasi Pertolongan Pertama. Kegiatan itu merupakan kegiatan yang mengasah kemampuan pertolongan pertama anggota Palang Merah Remaja (PMR) Wira dan Madya. Perlu diketahui, Bahwa PMR mendapat prioritas perhatian untuk memupuk jiwa sosial dan ber perikemanusiaan. Kegiatan ini biasanya diselenggarakan di depan Auditorium Al-Jibra UMI. BSM UMI juga aktif menjadi juri dalam kegiatan perlombaan sekitar tahun 2000-an. BSM UMI juga kadang dipercayai menjadi Kesehatan Lapangan (Keslap) dalam kegiatan kemahasiswaan di kampus UMI maupun event nasional atau regional.

Pamflet Safari Ramadhan 1436 H “Pelepas Dahaga Dari Sang Relawan”

Pernah suatu hari BSM UMI membuat sebuah posko DU di rumah kemanusiaan. Posko itu didirikan sejak pagi hari demi menghidangkan makanan untuk buka puasa. Puluhan keluarga Besar KSR BSM UMI berkumpul di rumah kemanusiaan kala itu. Mereka secara kolektif membagi tugas. Ada yang menata lokasi kegiatan, ada yang mengatur transportasi anak yatim dan ada yang menyiapkan santapan buka puasa. Air mata dari tim yang mengupas bawang berkucuran. Tapi lelah saat itu tak dihiraukan lagi. Dalam lubuk hatinya hanya satu, Semoga lelah saat itu menjadi berkah. Sabtu, 5 Juli 2015 atau tepat 17 Ramadhan, BSM UMI menyelenggarakan kegiatan Safari Ramadhan 1436 H “Pelepas Dahaga Dari Sang Relawan” Buka Puasa Bersama 1000 Anak Yatim. Kegiatan itu terlaksana di Auditorium Al-Jibra UMI. Tetapi sayangnya saat itu tidak ada yang menyadari bahwa sebentar lagi Bulan Sabit Merah hanya tinggal cerita.

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
411

LEAVE A REPLY