Home Artikel 5 Hal yang Dibutuhkan untuk Identifikasi Korban Bencana

5 Hal yang Dibutuhkan untuk Identifikasi Korban Bencana

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry

Ada beberapa fase dalam proses disaster victim identification (DVI) atau identifikasi korban bencana. Salah satunya adalah fase antemortem di mana tim DVI akan mengumpulkan data data fisik khas korban sebelum meninggal.

“Data antemortem itu penting karena DVI itu prinsipnya adalah kita membandingkan dari kejadiannya, jenazahnya dan data antemortemnya. Jadi dibutuhkan untuk perbandingan dan jika nanti ditemukan bahwa berasal dari orang yang sama maka korban bisa dikembalikan ke keluarganya,” papar dr Mohammad Ardhian Syaifuddin, SpF pada acara ‘Info Sehat FKUI untuk Anda: Tragedi dan Penatalaksanaannya dari Sudut Pandang Ilmu Forensik’ di FKUI Salemba, Kamis (29/11/2018).

Jika ada kerabat atau keluarga yang menjadi korban bencana, maka ada hal-hal yang bisa dilakukan untuk membantu proses identifikasi lebih cepat sebagai berikut :

1. Bawa data-data antemortem terduga korban

dr Ardhi menyebut hal ini merupakan hal terpenting. Perhatikan baik-baik apa saja yang bisa dibawa untuk membantu proses identifikasi, tujuannya menghindari risiko kunjungan berulang apalagi kalau lokasi posko jauh.

Data yang bisa dibawa minimal 1 data primer positif dengan atau tanpa data sekunder. Apabila tanpa data primer, minimal membawa dua data sekunder.

2. Data primer

Data antemortem primer terdiri dari tiga hal yaitu gigi, friction ridge analysis (sidik jari, telapak tangan/kaki) dan DNA. Masih banyak masyarakat Indonesia yang kurang menyadari pentingnya memiliki rekam medis dari ketiga hal tersebut, oleh karena itu dr Ardhi menyarankan mulai saat ini bisa memotivasi diri sendiri untuk bersiap atau mengantisipasi.

Gigi sangat penting karena tidak mudah terbakar dan tidak ikut membusuk. Gigi bisa didapatkan dari informasi dokter gigi atau tempat praktek gigi yang biasa didatangi terduga korban (jika pernah).

Karena akan sangat memudahkan karena bisa mendapatkan rekam medik, foto radiologi, cetakan gigi, gigi palsu atau yang sudah dicabut. Jika tidak ada, bisa menggunakan foto beresolusi tinggi yang menampakkan keseluruhan gigi.

Kemudian sidik jari bisa didapatkan dari riwayat mengurus berkas-berkas pribadi seperti SKCK, E-KTP, paspor dan catatan kepolisian. Bisa juga dari data biometrik (absen fingerprint kantor), barang-barang pribadi terduga korban. Atau sidik kaki biasanya digunakan pada korban bayi.

Tes DNA hanya dipilih apabila korban ditemukan dalam bentuk potongan tubuh. Diambil dari sampel darah atau biopsi dan objek personam terduga korban, serta pengumpulan sampel dari keluarga yang diambil dari sekaan pipi dalam dan droplet darah. Tes ini tidak akan dilakukan pada korban yang tidak memiliki relasi seperti anak adopsi.

3. Data sekunder

Data sekunder digunakam hanya jika tidak adanya data primer. Data sekunder biasanye berupa foto, yakni foto terduga korban, kemudian foto terakhir sebelum bencana atau foto diduga memakai pakaian yang sama saat bencana terjadi.

Atau bisa juga yang menunjukkan perhiasan atau pakaian yang sering dipakai. Bisa juga foto yang menunjukkan secara jelas ciri fisik tertentu dari korban.

4. Mendatangi posko antemortem

Di area bencana massal, datanglah ke posko bertuliskan Antemortem, bukan Postmortem. Di posko tersebut nantinya akan diwawancara soal terduga korban. Namun tidak diperkenankan untuk mengidentifikasi korban dengan cara melihat langsung.

“Mengidentifikasi secara visual atau melihat langsung mayat diklasifikasikan ‘unreliable’ oleh Interpol Inggris, artinya keluarga terduga korban biasanya berada dalam keadaan panik dan emosi, ditakutkan akan berujung salah identifikasi saat melihat jenazahnya dan jadi membawa jenazah yang salah. Kalau sudah telanjur dikuburkan, masa mau digali lagi? Lebih baik tidak teridentifikasi daripada salah mengidentifikasi,” tutur dr Ardhi yang pernah terlibat dalam identifikasi korban kecelakaan maut pesawat Sukhoi Superjet 100 tahun 2012 lalu.

5. Pelaporan, wawancara, pengambilan sampel

Usai mendatangi posko antemortem, Anda bisa melaporkan kehilangan orang atau diduga menjadi korban bencana. Kemudian petugas akan memberikan lembar berwarna kuning bagi tiap terduga korban untuk diisi.

Setelah mengisi lembar kuning, yang akan dilakukan selanjutnya adalah wawancara. Biasanya akan ditanyakan data pribadi pelapor, baru identitas terduga korban. Seperti nama, no KTP, alamat lengkap tempat tinggal dan kantor, ciri-ciri fisik yang berbeda dari orang lain dan sebagainya.

Perlu dicatat bahwa proses identifikasi membutuhkan kerjasama yang baik antara keluarga terduga korban dengan tim DVI. Korban positif teridentifikasi apabila minimal satu data primer positif dengan atau tanpa sekunder dan telah melalui fase rekonsiliasi atau membandingkan data antemortem dengan postmortem.

 

Sumber : detik.com

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
SHARE
Previous articlePeringatan Maulid Nabi Muhammad SAW
Next articleHari AIDS Sedunia

LEAVE A REPLY